Pancasila Sebagai Payung Pendidikan Interreligius, Upaya Untuk Mengatasi Radikalisme Agama di Indonesia

Source: http://gtu.edu/news-events/currents/spring-2012/ma-interreligious-studies

Latar Belakang Masalah

Pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi telah menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok Islam radikal. Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. Dua isu itu telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan umat Islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya. Hal ini telah memicu kecurigaan pada diri umat beragama di Indonesia.[1]

Adanya radikalisme agama bisa menjadi ancaman bagi integrasi nasional dan pluralitas masyarakat. Munculnya gejala stereotyping dalam diri umat beragama di Indonesia dapat memicu adanya saling kecurigaan yang berlebihan. Rasa takut dan was-was dalam tiap kelompok beragama, akibat dari munculnya gejala menguatnya radikalisme agama di Indonesia harus segera diatasi untuk mencegah terjadinya perpecahan sosial.

Pancasila sejak lama telah mendorong adanya kerukunan umat beragama dan pencegahan terhadap ekspresi agama yang bisa memicu perpecahan di Indonesia. Radikalisme agama dapat dikatakan sebagai bentuk penyimpangan dari Pancasila, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai asli masyarakat Indonesia. Radikalisme agama telah merongrong nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi terbuka yang telah disepakati para pendiri bangsa.

Pancasila pada dasarnya telah menjadi ideologi terbuka dan disepakati para pendiri negara yang berasal dari berbagai kelompok agama sebagai alat pemersatu sekaligus identitas nasional di Indonesia. Keterbukaan ideologi Pancasila bersifat internal dan eksternal. Keterbukaan ini sesungguhnya bersifat kultural, yakni selaras dengan kebudayaan. Hal ini bermakna bahwa keterbukaan tersebut selaras dengan nilai dasar kemanusiaan yang merupakan inti kebudayaan. Keterbukaan tersebut dibentuk oleh adanya sifat dasar monodualistik atau kedwitunggalan mendasar antara: personalitas dan sosialitas, antara ke-apa-an dan ke-siapa-an, antara dinamika dan keterbatasan, antara materialitas dan spiritualitas, antara kesinambungan dan pembaharuan. Ia adalah keterbukaan yang mempunyai ”jejer” dan identitas.[2]

Pancasila perlu direvitalisasi dan diwujudkan dalam upaya penanganan radikalisme agama, khususnya melalui metode pendidikan. Pendidikan selama ini rentan terhadap masuknya nilai-nilai radikalisme agama yang tentunya bertentangan dengan Pancasila. Pendidikan dan lembaga pendidikan sangat berpeluang menjadi penyebar benih radikalisme dan sekaligus penangkal (baca: deradikalisasi) Islam radikal. Studi-studi tentang radikalisme dan terorisme mensinyalir adanya lembaga pendidikan Islam tertentu (terutama yang nonformal, seperti pesantren) telah mengajarkan fundamentalisme dan radikalisme kepada para peserta didik. Belakangan, sekolah-sekolah formal juga mulai mengajarkan elemen-elemen Islam radikal, misalnya mengajarkan kepada murid untuk tidak menghormat bendera Merah Putih saat upacara bendera.[3]

Nilai-nilai Pancasila perlu segera diterapkan secara langsung di dunia pendidikan untuk mengatasi radikalisme berbasis agama. Nilai-nilai Pancasila dapat mendorong terlaksananya pendidikan interreligius. Pendidikan interreligius akan melaksanakan dorongan nilai-nilai Pancasila yang melaksanakan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, namun tetap melaksanakan keempat sila lainnya secara baik. Pendidikan interreligius yang menggunakan Pancasila sebagai acuan tepat untuk mengurangi sikap fanatisme berlebihan dan mendorong untuk melaksanakan kegiatan beragama dengan menghormati umat agama lain.

Pendidikan interreligius yang berbasiskan Pancasila akan melawan stigma terhadap sektor pendidikan yang selama ini diduga menjadi salah satu penyebab menguatnya radikalisme. Pendidikan agama di sekolah-sekolah selama ini adalah pendidikan agama yang bersifat ideologis-otoriter. Tidak ada nuansa dialog di sana. Perdebatan masalah-masalah “penting” dari agama-agama tidak pernah transparan demi mendapatkan titik pertemuan bersama. Pendidikan agama diajarkan secara literer, formalistik, sehingga wawasan pluralisme yang menjadi realitas masyarakat kita tidak tampak sekali. Pengajaran agama selama ini hanya mencoba menumbuhkan kritisisme dan apresiasi atas agamanya sendiri atau agama orang lain bahkan bisa dikategorikan menyesatkan.[4] Untuk itu perlu dilakukan rekonseptualisasi pendidikan agama, agar lebih inklusif dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 

[1] Abu Rokhmad,” Radikalisme Islam Dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal,” Jurnal Walisongo, Volume 20, Nomor 1 (Mei 2012): 80.

[2] Ngainun Naim,” Islam Dan Pancasila Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid,” Jurnal Episteme, Vol. 10, No. 2 (Desember 2015): 442.

[3] Abu Rokhmad, op.cit. Hlm 81.

[4] Edi Susanto,”Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam:Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik,” Jurnal Tadris, Volume 9, Nomor 1 (Juni2014): 85.

Tulisan selengkapnya dapat anda baca disini

Anggalih Bayu Muh Kamim
Mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*