Aktualisasi Konsep Filsafat Pancasila Notonagoro Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Pengantar

Ilmu pengetahuan modern  dan teknologi telah banyak menunjang kemajuan di bidang-bidang kehidupan, bukan hanya pemenuhan sandang dan pangan, tetapi juga kesehatan, transportasi, dan komunikasi. Ilmu pengetahuan modern telah mampu menemukan kebenaran yang objektif berdasarkan bukti-bukti faktual yang tekanan utamanya pada data, fakta, dan peristiwa-peristiwa yang emperis, dengan ciri penerapannya yang praktis dan pragmatis. Walaupun ilmu pengetahuan telah membawa kemajuan dan kesejahteraan yang pesat, tetapi banyak pula menimbulkan dampak negatif karena tidak pernah bersentuhan dengan nilai-nilai hidup. Akibatnya hak asasi manusia, nilai, moral, keadilan, dan pelestarian alam diabaikan (Soedjadmoko, 2004: 42).

Para pakar ilmu pengetahuan dengan menggunakan tata cara ilmiah akan dapat memikirkan secara rasional sesuai dengan kemampuan bidang kepakarannya tentang masa depan bidang ilmunya. Kemajuan ilmu pengetahuan modern yang emperis, praktis, dan pragmatis merupakan akibat dari apa yang dipilih, dilakukan oleh para pakar pada masa lalu. Kelalaian pada nilai-nilai hidup juga merupakan akibat pilihan masa yang lampau.

Penalaran yang kritis dapat dilakukan, bahwa masa depan adalah tentunya hasil dari apa yang direncanakan, dipilih dan akan dilakukan. Apabila fakta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar diperhitungkan sebagai pembawa informasi dari jaman lampau dan guru bagi kehidupan, maka informasi tersebut akan dapat bermanfaat bagi para pakar ilmu pengetahuan di Indonesia dalam menyongsong masa depan, yaitu dengan menghindarkan terjadinya kelalaian pada nilai-nilai hidup.

Nilai-nilai kebangsaan dipilih, ditentukan dan terbentuk dalam konteks sejarah dan kehidupan sosial. Nilai-nilai kebangsaan merupakan hasil dari gerakan sejarah yang konkret. Meskipun nilai-nilai dari sudut pandang filsafat merupakan nilai mutlak, mendasar, dan universal, namun nilai-nilai itu dinyatakan (diajarkan, digarisbawahi) dan dipelajari. Para pakar ilmu pengetahuan Indonesia perlu menyusun konsep yang mendasar dan komprehensif untuk tetap mempertahankan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan ilmu pengetahuan di Indonesia yang secara akulturatif akan siap menerima pengaruh nilai-nilai Iptek modern.

Pendalaman makna nilai-nilai Pancasila secara filsafati sudah dirintis oleh Notonagoro. Konsep Notonagoro tentang Filsafat Pancasila merupakan hasil penelitian dan pemikiran yang berkesinambungan. Konsep Notonagoro juga telah mendapat pengakuan dan kepercayaan dari Universitas Gadjah Mada dan pemerintah. Universitas Gadjah Mada telah memberikan penghargaan berupa penganugerahan gelar doctor honoris causa dalam bidang ilmu Filsafat kepada Notonagoro pada tahun 1973.

Sukadji Ranuwihardjo sebagai Rektor / Ketua Senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada dalam kedudukannya sebagai promotor pada penganugerahan gelar doctor honoris causa tersebut mengemukakan, bahwa melalui perenungan jiwa yang dalam, penyelidikan cipta yang teratur dan saksama, serta dilandasi pengetahuan dan pengalaman yang luas, Notonagoro telah berhasil merumuskan ilmu Filsafat Pancasila dengan menemukan pengertian dan hakikat sila-silanya. Pengertian hakikat dan nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan dasar dan titik tolak untuk memecahkan soal-soal pokok ilmu pengetahuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan termasuk segi penerapannya bagi kehidupan di Indonesia (Ranuwihardjo, 1974: 8).

Peranan Notonagoro merumuskan pengertian Filsafat Pancasila dan isi arti sila-silanya sangat penting bagi aktualisasi Pancasila, yaitu untuk menentukan adanya nilai-nilai Pancasila yang tetap dan menjadi dasar perubahan di masa depan. Inti sila-sila Pancasila mempunyai sifat abstrak dan memiliki pengertian umum universal. Karena sifatnya yang abstrak umum universal, maka isi arti hakikat sila-sila Pancasila bersifat tetap dan tidak berubah. Isi arti sila-sila Pancasila yang abstrak umum universal tersebut secara material perlu dilaksanakan dalam kehidupan yang nyata, terutama pada kehidupan penyelenggaraan negara (Kaelan, 2004: 64).

Agar nilai-nilai filsafati Pancasila mempunyai corak fungsional bagi kehidupan yang nyata, maka diperlukan kejelasan rumusan tentang pelaksanaan atau aktualisasinya untuk masa sekarang dan yang akan datang. Aktualisasi Pancasila untuk masa yang akan datang adalah masalah untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman. Permasalahan aktualisasi Pancasila membutuhkan kejelasan hubungan keberadaan dan fungsi Pancasila di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang sebagai sumber nilai, kepantasan, dan dasar menyusun konsep pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Tulisan lengkap dapat anda baca disini

Sri Soeprapto
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*