Peranan Pancasila Dalam Spiral Of Stupidity Konflik Lampung Selatan

Negara Indonesia adalah negara yang bersifat multikulturalisme. Hal ini tergambar dari jumlah pulau, ragam suku, banyak agama, serta aneka macam budaya yang ada di dalamnya. Banyaknya perbedaan itu tercermin dalam Pancasila yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Semboyan itu hendak mengatakan kalau perbedaan bukanlah hal yang haram namun sesuatu yang wajar dan normal.

Perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi bukan untuk saling memusuhi. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Papua, Maluku memiliki ciri khas masing-masing yang merupakan kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia. Kesemuanya menyatu dalam satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air bernama Indonesia.

Namun, akhir-akhir ini kita dapat melihat kalau persatuan itu sedang sedikit terkoyak. Perbedaan yang harusnya dilebur dalam kebersamaan berubah menjadi perpecahan. Perbedaan yang tidak semestinya ditonjolkan malah digunakan untuk pamer kekuatan. Perbedaan yang ditujukan untuk menciptakan kekayaan budaya justru menciptakan sikap nelangsa. Mirisnya lagi, banyaknya perpecahan, perkelahian, pembunuhan, pertengkaran yang terjadi atas nama perbedaan justru dimulai dari  persoalan yang sepele, persoalan yang kecil, persoalan sederhana.

Salah satunya adalah konflik yang terjadi di Lampung Selatan tepatnya di wilayah Kalianda pada tahun 2012. Konflik yang bermula diduga dari pelecehan seksual ini berkembang menjadi konflik yang begitu besar. Pembakaran rumah, pembunuhan, pembacokan yang terjadi sungguh menakutkan. Masyarakat seakan-akan tidak lagi memiliki norma/aturan atau bahkan lupa bahwa mereka adalah masyarakat Pancasila yang hendaknya harus saling menyayangi, mencintai, dan menghormati antar sesama warga negara. Konflik yang sepertinya telah menggambarkan bahwa pranata sosial di negara kita telah melemah itu akan coba penulis kupas dalam kacamata filsafat pancasila.

Alasan penulis menggunakan filsafat pancasila sebagai pisau analis dikarenakan pancasila merupakan sistem yang canggih. Nilai pancasila tidak hanya untuk pengenalan serta pemasyarakatan akan tetapi penjelasan kemampuan mental kejiwaan manusia yaitu sampai pada tingkat akal, rasa dan kehendak manusia (Kaelan, 1996: 193). Tingkat akal, rasa, dan kehendak manusia inilah yang sering terkoyak. Masyarakat kita saat ini lebih sering bersikap marah-marah dibandingkan ramah tamah.

Selain itu, pancasila ini merupakan lima dasar bagi bangsa Indonesia dalam mendirikan negara Indonesia yang kekal dan abadi (Pranarka, 1985: 33). Oleh karena itu permasalahan apa pun seperti permasalahan moral yang ada di Lampung Selatan dapat dilihat dalam kacamata pancasila. Aktualisasi pancasila dalam aspek moral akan mewujudkan moral bangsa yang mencerminkan keluhuran budi dan kemuliaan akhlaknya. Iman dan takwa, peka tehadap masalah kemanusiaan, silaturahmi dan kerjasama, tidak memaksakan kehendak, serta semangat gotong royong demi kesejahteraan seluruh rakyat merupakan sikap-sikap yang diinginkan dan dikehendaki oleh Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia (Suhadi, 2002 : 218).

 Pancasila sebagai objek formal akan digunakan untuk melihat konflik yang ada di Indonesia khususnya yang terjadi di Balinuraga, Lampung Selatan. Penulis sendiri mengkhususkan pada Pancasila terutama sila kedua (Kemanusiaan yang adil dan Beradab) dan sila kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Sebenarnya semua sila dalam Pancasila dapat dipakai untuk menganalis, namun penulis menilai dua sila ini lebih cocok digunakan dalam mengupas kasus yang terjadi di Lampung Selatan.

Tulisan lengkap dapat anda baca disini

Fitri Alfariz
Dosen Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*